karya-karya Jimmy Purba

‘ Hidup berdampingan dengan harmonis ‘

sebuah harapan dalam kegelisahan…

I. Dahulu,..
rumah bagi sekelompok manusia tidak hanya memiliki fungsi hunian yang bersifat ragawi, tetapi juga memiliki fungsi rohani/spiritual, yang menjadi pegangan yang kuat dalam sistem sosial dan kemasyarakatan mereka. Masyarakat yang bertradisi. Kita dapat melihat kampung-kampung tradisional memiliki tipologi bangunan dan fungsi yang relatif seragam karena diikat oleh aturan adat maupun nilai-nilai komunalitas yang kuat. Untuk berbeda dari yang lain, lingkungan harus mengaminkan semua.  Ada lembaga dan pranata sosial yang mengatur itu semua. Orang tidak serta merta bisa membuat rumah yang ‘mewah’,berbeda dari yang lain, hanya dikarenakan dia memiliki penghidupan yang lebih baik dari yang lain di lingkungannya. Sehingga terbentuklah sebuah tatanan perkampungan ataupun perumahan yang harmonis, tetapi juga tetap dapat tumbuh dan berkembang.

II. Saat ini,..
peradaban manusia berkembang, tatanan sosial pun berubah. Mereka yang hidup di kota, memiliki kesempatan untuk hidup berdampingan secara heterogen dan plural. Ada yang hidup dalam sebuah lingkungan hunian yang tumbuh secara alami,walaupun kadangkala tidak  sesuai peruntukan lahannya,yang kerap menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Ada juga yang berkesempatan untuk hidup di lingkungan perumahan yang dibuat atau dibangun oleh pengelola lingkungan, yang sering disebut sebagai pengembang/developer, sesuai  dengan peruntukannya di sebuah kawasan kota. 
Ada yang membeli lahan kosong (sebut saja kapling)  dan kemudian membangunnya sesuai selera ataupun di sebuah kawasan kompleks yang sudah siap huni dengan rumah jadi dan lingkungan yang sudah tertata.
Yang sering menjadi permasalahan di kalangan developer dan penghuni adalah antisipasi terhadap perkembangan dari pembangunan pasca huni. Bila di lahan yang hanya menjual kapling,mungkin calon pembeli ataupun penghuni lingkungan harus siap untuk bertetangga dengan berbagai macam bentuk rumah di lingkungannya. Tetapi ternyata hal ini juga sangat sering terjadi di perumahan yang siap huni.
Umumnya, yang paling banyak terjadi pertumbuhan dan perkembangan adalah bentuk pagar dan carport/area menaruh kendaraan di depan rumah (bila rumah tidak menyiapkan garasi). Atau juga warna cat dan pilihan material yang kemudian diganti sesuai dengan selera pembeli/penghuni. Bahkan ketinggian bangunan dan penambahan jumlah lantai adalah yang paling sering menjadi kendala bagi ke ‘serasia’ an di sebuah lingkungan perumahan.
Pertumbuhan dan perkembangan kadang tidak saja terjadi pada kepemilikan (properti) individu penghuni, bahkan juga fasilitas umum dan publik : seperti jalan,pepohonan,ruang terbuka, dapat beralih fungsi
tanpa sepengetahuan seluruh penghuni lingkungan.

Perubahan dan perkembangan tentu sah-sah saja, bahkan hal tersebut adalah sebuah indikasi adanya perkembangan yang baik dari penghuninya.
Tetapi bila perkembangan tersebut tidak terkontrol, maka yang terjadi adalah kompetisi selera individu untuk meng’hias’ rumah masing-masing yang berakibat pada terjadinya polusi visual. Tidak ada lagi tenggang rasa dan peduli pada tetangga ketika akan bertumbuh. Dari mulai gaya klasik hingga nano-nano (= semua rasa ada) kerap kali kita jumpai di satu lingkungan perumahan.
Jaman sudah berubah, urusan desain adalah urusan yang subyektif dan tergantung selera dan kebutuhan yang beragam. Penghuni juga bebas memilih arsitek pribadinya atau dapat menjadi ‘arsitek’ sendiri. 

III. Lalu,…
bagaimana mengantisipasi ini ? Hal yang sulit dan perlu strategi untuk mencari solusi terbaik. Tinggal bagaimana developer sebagai pengelola lingkungan dan dapat pula sebagai mediator perlu bertindak tidak hanya atas dasar untung-rugi. Tetapi juga dapat berfungsi sebagai lembaga kolektif sosial urusan desain dan lingkungan binaan.
Developer berkelas biasanya memang membuat rambu-rambu untuk itu semua. Ada guidelines design untuk mengantisipasi pertumbuhan pembangunan di lingkungannya, yang kadangkala juga terlanggar karena tarik ulur kepentingan cashflow dan keinginan pembeli. Mau merubah pagar atau warna dinding atau ganti atap ? Penghuni dapat berkonsultasi dengan developer yang siap melayani dan memberikan masukan yang optimal.
Tinggal sekarang perlu dilakukan komunikasi dan dialog yang intens dan berkelanjutan antara developer dengan calon pembeli, pembeli ataupun penghuni, hingga akan terbentuk sebuah    
komunitas lingkungan yang kompak dan bertenggang rasa. Yang mau melihat kiri dan kanan sebelum bertumbuh dan yang juga mau meredam egosentris ketika akan membangun. Lingkungan yang tertata baik dan harmonis adalah simbol kebersamaan dan ujud terjalinnya dialog yang baik antar penghuni maupun pengelolanya. Dan tentu saja akan menjadi sebuah investasi yang baik bagi pertumbuhan lingkungan di masa depan….
Semoga…

Bandung,16 Mei 2011
dibuat untuk buletin bulanan ‘Kalawarta’, Kota Baru Parahyangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s